06 Fenomena Semburan Lumpur Sidoarjo

Telah setahun berlalu, namun bumi Porong dengan kegarangannya terus memuntahkan lumpur panas mengandung gas beracun dari dalam perutnya tanpa henti. Tak bergeming di tengah manusia berupaya dengan sekian banyak jurus yang dilakukan. Sekian banyak seminar dan diskusi telah diselenggarakan guna menelurkan teori-teori ilmiah mencari cara terapi penghentiannya. Berbagai teknologi pun telah diimplementasikan. Telah sekian banyak pula upaya ritual keagamaan dan spiritual dilaksanakan. Artinya, bertriliun-triliun rupiah telah dimuntahkan guna mengatasi semburan lumpur bumi Porong yang seakan menantang dan makin menunjukkan keangkuhannya. Entah berapa ratus triliun rupiah lagi akan dikeluarkan untuk menanggulangi semburan lumpur tersebut beserta dampak dan akibatnya. Padahal para pakar geologi pun telah memprediksikan bahwa fenomena alam semburan lumpur Porong ini baru akan berhenti setelah melalui masa selama 33 tahun.

Suatu fenomena yang luar biasa sekaligus memprihatinkan di tengah situasi negeri ini yang carut marut dan makin terpuruk. Dampak dari ini semua yang terpenting adalah berapa banyak lagi rakyat kecil yang akan menjadi korban? Sedangkan korban yang ada saat ini saja masih terkatung-katung nasibnya. Hanya janji-janji kosong yang membuai mereka setiap saat. Tangis dan rintihan kepedihan hidup mereka seakan ditelan waktu menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa. Nampaknya pemerintahan negeri ini telah gagal, tak mampu mengatasi persoalan ini dengan cepat dan sigap, terlihat mengulur-ulur waktu dan melindungi “kepentingan tertentu”.

Para elite negeri ini sepertinya telah terhijab dan terbelenggu oleh taghut-taghutnya sendiri. Mereka telah menanggalkan “Jas Merah” (ungkapan Bung Karno : Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Sejarah masa lalu hanya dijadikan dongeng sebelum tidur. Kita semua telah lupa. Kita semua “ada” saat ini adalah merupakan hasil perjalanan sejarah masa lalu. Lupa sejarah sama artinya kita melupakan asal-usul, lupa orang tua, lupa kakek nenek, lupa leluhur, dan sama artinya melupakan Allah SWT. Betapa tidak, padahal Al Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya yang menjadi pedoman hidup umat di bumi ini meriwayatkan pengalaman, ucapan, perbuatan dan akibat baik buruk orang-orang terdahulu.

Sejarah bukan sekedar perjalanan manusia di bumi yang terjadi begitu saja adanya, namun jika direnungkan lebih dalam memberikan pelajaran bagi kita akan ketetapan-ketetapan-Nya. Secara ringkas dapat dikatakan, dengan melihat sejarah, Allah memberikan pelajar­an kepada kita. Dalam kawruh Jawa salah satu hikmahnya dikenal dengan istilah : ”Ngunduh wohing pakerti” (orang akan memetik hasil atas perbuatannya sendiri). Bangsa ini adalah merupakan anak cucu para leluhur negeri ini. Sudah semestinya kita tidak melupa­kan sejarah keberadaan beliau para leluhur nusantara dengan segala fenomenanya. Sudah selayaknya kesadaran akan kesatuan persatuan berbangsa dan bernegara diikat oleh kenyataan sejarah nusantara ini. Menjadi suatu kenyataan bahwa bumi Nusantara (Indonesia) berbeda dengan bumi Arab, berbeda pula dengan bumi Amerika, Eropa, Afrika, Cina, dan lain-lain. Walaupun agama-agama telah menjadi keniscayaan berkembang di negeri ini, namun semestinya kita tidak meninggalkan ”jati diri” sebagai bangsa di tanah yang kaya raya ini, Nusantara. Sudah selayaknya kita orang Jawa mempertahankan identitas (tradisi dan budaya) ke Jawa-annya, orang Batak dengan identitas ke Batak-annya, orang Aceh dengan ke Aceh-annya, orang Dayak dengan ke Dayak-annya, dan sebagainya.

Apakah di jaman digital ini kita masih tidak percaya dengan petuah-petuah leluhur kita? Apalagi petuah atau karya leluhur yang winasis dan waskita yang menjadi wasiat bagi anak cucu negeri ini. Apakah kita masih angkuh dan sombong di dalam memandang upaya ”nguri-uri budaya leluhur” menanggapinya dengan pernyataan bahwa semua itu merupakan sesuatu yang syirik musyrik bahkan bid’ah dan sesat? Juga dinilai sebagai mistik dan tahayul? Padahal mistik dan tahayul merupakan suatu ungkapan terhadap hal-hal yang tidak dapat dicerna dengan akal penalaran karena bersifat gaib (tidak nyata atau tidak kasat mata). Padahal pula kegaiban adalah suatu kenyataan yang bagi kita umat beragama diwajibkan untuk meyakininya. Di dalam agama Islam kita mengenal adanya 6 (enam) Rukun Iman. Jin dan setan pun nyata adanya sebagai mahluk gaib ciptaan Allah Yang Maha Gaib. Apakah kita masih ingin mengingkarinya? Jadi, soal syirik musyrik, bid’ah dan sesat merupakan penilaian yang menjadi hak Allah semata. Kita sesama hamba ciptaan-Nya tidak berhak untuk saling memvonis dan menghakimi dalam persoalan ini.

Setidaknya kita patut tersadar bahwa ternyata wasiat-wasiat leluhur Nusantara ini merupakan suatu hal yang fenomenal dan luar biasa yang pernah ada dan pernah terjadi di muka bumi ini. Bayangkan dan renungkan sejenak, tanpa tersadar bangsa ini sebenarnya telah memiliki wasiat yang secara rinci namun tersamar menggambarkan sosok pemimpin dan situasi umum keadaan negara ke depan. Tentu saja semua terjadi atas Kehendak Allah dengan segala Kekuasaan-Nya. Dan semua itu merupakan harta karun yang tak ternilai harganya. Selain mengandung petuah tentang budi pekerti yang baik juga mengandung prediksi perjalanan bangsa ini dengan situasi dan kondisi yang menyertainya.

Apakah kita masih mengingkari, jika dikatakan oleh Prabu Joyoboyo (Jenggala, Th 1135 – 1157) di dalam Serat Musarar akan berdiri kerajaan Kediri, Singosari, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram? Padahal masing-masing kerajaan berselang waktu ratusan tahun sesudahnya. Apakah kita masih mengingkari, jika dari perlambang yang ada dikatakan bahwa sejak Kemerdekaan Negara RI 1945 dikatakan bahwa negara dikutuk selama 60 tahun? Apakah kita juga masih mengingkari, bahwa pada saat ini kita masuk kepada era pemimpin dengan perlambang ”Tan kober pepaes sarira, tan tinolih sinjang kemben” yang bermakna bahwa pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah? Hal ini dengan versi lain dikatakan oleh Ronggowarsito, bahwa saat ini masuk pada era pemimpin ”Satrio Boyong Pambukaning Gapuro” dengan segala fenomenanya (lihat : Ramalan 7 Satrio Piningit). Sejujurnya bisa dikatakan bahwa di era kepemimpinan SBY – JK saat ini telah terjadi banyak bencana dan kecelakaan, sampai-sampai terlihat tidak sempat mengatur negara. Banyak kebijakan-kebijakan beliau yang mandul dalam pelaksanaannya walaupun banyak dibantu orang-orang pandai di bidang­nya. Berpotensi terjadinya disintegrasi bangsa, yang ditunjukkan dengan berbagai konflik kepentingan antar sesama anak bangsa, juga perdamaian “semu” GAM – RI yang merupakan potensi laten disintegrasi Aceh dari naungan NKRI di depan hari.

Setidaknya jika kita jeli, maka gambaran-gambaran yang telah diungkapkan para leluhur nusantara beratus-ratus tahun yang lalu telah muncul menjadi kenyataan saat ini. Dengan pemahaman ini maka kita dapat meraba apa yang akan terjadi setelah ini. Diperlukan kearifan lahir dan batin dalam memandang dan menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini dengan “penuh kesadaran”. Sadar sepenuhnya bahwa bumi dimana kita berpijak ini memiliki sifat dan karakter tersendiri. Nusantara adalah nusantara, dan bukan negeri yang lainnya. Segala apa yang tumbuh di jagad nusantara ini, baik sisi geografis, flora dan fauna, termasuk keragaman etnis beserta tradisi dan budayanya sudah menjadi ketetapan-Nya (sunatullah). Hanya nafsu-nafsu manusia saja dalam hal ini yang merusak segala tatanan yang ada.

Peristiwa semburan lumpur Sidoarjo merupakan salah satu bukti kenyataan yang terjadi akibat nafsu manusia yang rakus dan serakah. Sehingga dampaknya sungguh luar biasa. Selain alam lingkungan rusak parah, juga menimbulkan kesengsaraan materi, psikologis dan psikis dari ribuan jiwa yang tinggal di sekitarnya. Belum lagi “ancaman” bagi ribuan jiwa yang lain dan juga potensi laten bencana lain yang menyertainya (sebab-akibat).

Sangat ironis dan dilematis menghadapi persoalan ini. Manusia di jaman sekarang ini maunya hanya mengandalkan upaya-upaya penalaran secara logis bersifat lahir. Padahal persoalan yang dihadapi adalah peristiwa di luar nalar. Sedangkan upaya batin yang banyak dilakukan telah terkontaminasi mengandung “kepentingan-kepentingan” tertentu.

Dibutuhkan “kearifan bersama” dan toleransi yang sangat tinggi menyikapi fenomena semburan lumpur Sidoarjo ini. Secara potret spiritual pun sangat rumit upaya penyelesaiannya. Karena sebenar­nya kawasan semburan tersebut dahulu kala merupakan “tempat/kawasan suci”. Hal ini terkait dengan cerita legenda Raden Guru Gantangan dari Pajajaran yang dijodohkan dengan Payung Kencana putri dari Betara Naga Raja. Sejatinya secara kegaiban (alam niskala) tempat semburan lumpur tersebut adalah merupakan telaga para bidadari. Sehingga tempat itu dahulu kala ditandai dengan berdirinya Candi Pradah. Di tempat itu pula terdapat prasasti yang ditanam oleh Gajah Mada. Singkat cerita dibutuhkan kearifan untuk mengembalikan kawasan tersebut kembali menjadi “tempat suci”.

Namun secara hakekat spiritual, fenomena semburan lumpur ini merupakan satu paket dari serangkaian kejadian-kejadian yang lain. Dimana merupakan tanda yang memberikan pesan bahwa “kebaikan dan keburukan” di negeri ini akan sama-sama muncul di permukaan. Namun kemunculan ini akan membawa aura panas dan memakan korban. Segala keburukan akan terkuak yang akan dilibas dengan datangnya kebaikan. Daya kebangkitan semangat Majapahit tanpa terasa sudah mulai menampakkan diri. Secara kasat mata hal ini bisa dibuktikan dengan adanya upaya membenahi kawasan budaya bekas kerajaan Majapahit di Trowulan dengan proyek pembangunan “Majapahit Park”.
Bukan suatu kebetulan kalau dikatakan bahwa daya-daya Sabdo Palon Noyo Genggong tengah berjalan. Karena semuanya terjadi juga atas Kehendak Allah SWT. Fenomena yang tengah berjalan saat ini sebenarnya telah tertulis di dalam Wangsit Siliwangi sbb :

”Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.
Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menye­robot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.
Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi anak gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.
Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.
Silahkan pergi, ingat jangan menoleh ke belakang!”

Fenomena inilah yang dikatakan Prabu Siliwangi untuk menunjuk era saat ini. Betapa tidak, dengan kejadian semburan lumpur Porong yang hingga saat ini belum berhenti mengisyaratkan bahwa seluruh rakyat sedang menantikan datangnya mu’jizat. Disertai huru-hara di sana-sini, juga perebutan soal tanah. Pemuda gendut adalah perlambang orang-orang berduit yang serakah. Pepesan kosong bermakna bahwa rakyat tidak mendapat apa-apa terkalahkan karena orang-orang yang berkompeten atau berkuasa masuk dalam persoalan membantu orang-orang yang berduit. Kita lihat saja pada saat ini banyak sekali persoalan perebutan tanah dan gusur menggusur merebak di mana-mana.

Akhirnya dapat saya katakan di sini bahwa Semburan Lumpur Porong yang sangat fenomenal saat ini sesungguhnya merupakan suatu tanda yang mengisyaratkan adanya ”Sayembara” yang terbuka luas bagi anak cucu negeri ini. Walaupun pihak pemerintah atau Lapindo sekalipun tidak secara resmi mengadakan sayembara ini. Sayembara yang saya katakan itu mengisyaratkan bahwa : ”Bagi siapa saja yang mampu menghentikan semburan lumpur Porong saat ini, maka dialah Sang Budak Angon itu, dialah Aulia itu Sang Putra Betara Indra, dan dialah yang dikatakan Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu itu. Siapapun saja tanpa terkecuali, entah dia adalah seorang tukang becak, tukang parkir, penjual bakso, bahkan seorang jendral sekalipun. Semoga Tuhan Yang Maha Agung melimpahkan rahmat-Nya kepada umat-Nya yang berjuang menegakkan kebenaran. Semoga Allah meridhoi upaya kita semua. Amin…

Jayalah Negeriku,
Tegaklah Garudaku,
Jayalah Nusantaraku…

29 Mei 2007
( Tri Budi Marhaen Darmawan )


%d blogger menyukai ini: